Coretan

Cinta Ayah Dan Rindu Untuknya

BAWAKALEM. Aku tahu, kita tidak sedekat seperti aku dekat dengan ibu.
Kasih dan sayang yang tak terucapkan setiap waktu.
Dan cinta, yg tak terungkapkan oleh kata.

Pah. Aku tahu cintamu memang begitu.
Tak terucapkan oleh kata, namun tergambarkan dengan realita.
Kau yang diam-diam perhatian.
Menanyakan aku kepada ibu, “anak-anak sudah makan?”
Dan itu sudah cukup bagiku mengetahui cintamu.

Kenangan-kenangan yg tak bisa terlupakan.
Tersimpan rapi dalam ingatan ini.
Dulu. Saat aku masih kecil, kau yang pertama kali ajari aku bagaimana caranya untuk naik sepeda.
Sampai aku terjatuh, terluka dan kau selalu bilang “jangan menyerah nak, anak papa bisa”. Kemudian aku tersenyum dan mulai kembali berusaha.

Kau pula yg selalu gendong aku di pundakmu, sambi ku bernyanyi, bercerita ini dan itu.
Kau pula yang selalu memberiku hadiah-hadiah kecil yg tak ku minta sekalipun.
Sampai akhirnya hari ini. Aku hanya mampu mengingat dan mengenang semuanya dengan senyum yang diiringi dengan tangis.

Aku rindu.
Aku rindu masa-masa itu.
Aku rindu sosok dirimu dimasa remajaku.

Terkadang aku bertanya dalam diamku.
Apa aku bisa membalas sedikit dari besarnya cintamu padaku itu pah?
Sebelum kemudian cintaku terbagi kepada laki-laki asing yang nanti menjemputku.

Aku hanya berdoa, semoga cinta itu tergantikan dengan cinta-Nya terhadapmu.
Sehingga kau selalu bahagia.
Dan kita kembali bersama-sama di surga-Nya.

Membangun kembali cerita indah, seperti yang masih tersimpan rapi dalam ingatan ini, sampai hari ini.

Bandung, 2018
Kisti_syh

Facebook Comments

Terpopuler

To Top