Coretan

Paradoks Kepemimpinan

BAWAKALEM. Indonesia pasca reformasi belum menemukan pola kepemimpinan yang ideal. Para pemimpin Indonesia saat ini cenderung mengarah kepada penokohan terhadap sosok yang mewakili kelompok tertentu.

Hal ini berdampak pada kualitas pemimpin yang seharusnya mampu mengayomi seluruh masyarakat Indonesia, karena parameter seorang pemimpin di Indonesia masih bersifat feodal yaitu dengan mengedepankan latar belakang dari seseorang sehingga tidak terciptanya seorang pemimpin yang benar-benar memiliki kredibilitas dan kapabilitas dalam memimpin bangsa ini.

Kini, kita dihadapkan pada kondisi bangsa Indonesia yang memperihatinkan, dimana para pemimpin negara ini tidak lagi bertumpu pada kemaslahatan umat dan bangsa, yakni tidak adanya keberpihakan yang jelas terhadap keberlangsungan kehidupan rakyat yang menempati tanah air “Indonesia” ini.

Bagaimana tidak, fakta-fakta praktek dehumanisasi terjadi dimana-mana, hancurnya lembaga penegak hukum, posisi “budaya” yang terpinggirkan, sistem perpolitikan yang ada tidak menghasilkan negarawan yang arif, kebudayaan yang kehilangan dasar-dasar moralitas, praktek keagamaan yang menjadi lahan bisnis. Di dalam berbagai kondisi ini, kita seakan kehilangan harapan untuk melakukan perubahan. Oleh karena itu, sangat jelas dirasakan bahwa bangsa ini telah mengalami krisis kepemimpinan.

-Karakter Pemimpin Seorang Muslim-

Kepemimpinan ialah suatu proses untuk menggerakkan sekumpulan manusia menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan dengan mendorong mereka bertindak dengan cara yang tidak memaksa. Kepemimpinan yang baik menggerakkan manusia ke arah umum yang dalam jangka panjang,betul-betul merupakan kepentingan mereka yang terbaik.

Sedangkan pemimpin ialah anggota dari suatu perkumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan diharapkan dapat bertindak sesuai dengan kedudukannya.Pemimpin yang jujur ialah seseorang yang menggunakan kedudukan untuk memimpin.

Dalam Islam pemimpin ialah pelayan, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa pemimpin suatu kelompok ialah pelayan kelompok tersebut. Oleh karena itu, pemimpin hendaknya melayani dan mendorong orang lain untuk maju.

Kepemimpinan dari sudut agama Islam secara sederhana oleh setiap pemimpin harus dijalankan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menyeru agar orang lain di lingkungan masing-masing menjadi manusia beriman, dalam abad modern bukanlah pekerjaan yang mudah.

Tugas dan kewajiban pemimpin memang tidaklah mudah, membutuhkan berbagai macam unsur yang mendukung terwujudnya kepemimpinan yang efektif serta mempunyai nilai mulia di sisi ALLAH SWT.

Untuk memenuhi hal itu dibutuhkan seorang pemimpin yang menjunjung pada nilai-nilai kebenaran, dan seorang pemimpin yang penuh tanggung jawab, mempunyai loyalitas tinggi, dan dapat menjaga amanah dengan baik.

Kepemimpinan dalam Islam mempunyai aspek tersendiri di antara berbagai aspek kehidupan disorot oleh al-Quran dan al-Hadits. Kriteria dan syarat menjadi seorang pemimpin dalam proses memimpin orang lain dibutuhkan individu-individu pemimpin yang memiliki sifat-sifat mulia seperti sifat-sifat yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW.

Terangkum menjadi satu-kesatuan sifat wajib meliputi shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Sifat-sifat rasul akan menjadi sebuah prototipe dan prinsip tersendiri bagi seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya dengan menerapkan nilai-nilai luhur ini, diantaranya:

1. Jujur (shiddiq)
Kejujuran merupakan faktor utama seseorang dapat dipercaya orang lain, kejujuran akan melahirkan kepercayaan dari orang lain, sekali tidak jujur akan sulit menimbulkan kepercayaan dari para anggota. Prinsip kejujuran yang harus dijunjung oleh pemimpin tidak memiliki tendensi apapun, sebab pemimpin yang baik hanya mengharap ridha dari ALLAH, yang ini berarti pemimpin berusaha untuk jujur di hadapan ALLAH. Sedangkan jujur terhadap orang lain, yakni tidak sebatas berkata dan berbuat benar, namun berusaha memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

Sikap dan prinsip shiddiq yang ditampakkan oleh pemimpin akan melahirkan semangat kerja tinggi dan loyalitas yang tinggi dari bawahan kepada pemimpin itu sendiri, karena dalam melaksanakan tugas-tugasnya, mereka tidak merasa terhambat dengan berbagai kebohongan yang akan merusak dirinya. Sikap mental yang terwujud dalam bentuk kejujuran dari seorang pemimpin merupakan kredibilitas dan integritas pribadi yang berkumpul dalam satu pribadi pemimpin itu sendiri. Pemimpin yang profesional memiliki berbagai kualitas yang terkumpul dalam dirinya, seperti memiliki motivasi yang tinggi dan kejujuran. Dua komponen inilah yang menentukan keberhasilan seorang pemimpin.

2. Dapat dipercaya (amanah)
Sikap yang muncul selanjutnya dan sepatutnya dimiliki pemimpin yaitu amanah. Perwujudan sikap amanah menunjukkan bahwa pemimpin dapat menampakkan sikap yang dapat dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati (honorable). Sikap terhormat dan dapat dipercaya hanya dapat tumbuh apabila kita meyakini sesuatu yang kita anggap benar sebagai suatu prinsip kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat. Pemimpin yang dipercaya, mampu mempercayai orang lain dan memiliki kepercayaan diri, oleh karena itu pemimpin demikian itulah yang dapat disebut sebagai pemimpin yang bertanggung jawab.

3. Menyampaikan (tabligh)
Hubungan antara komunikasi dengan kepemimpinan sangat erat sekali, bahkan dapat dikatakan bahwa tiada kepemimpinan tanpa komunikasi. Komunikasi berperan sangat menentukan dalam berhasil tidaknya suatu kepemimpinan. Seorang pemimpin dikatakan sukses apabila di antaranya telah berhasil membangun komunikasi yang efektif antara dirinya dengan anggota.

Secara umum kepemimpinan pada dasarnya merupakan proses mempengaruhi dan mengajak orang lain menuju tujuan yang diinginkan. Dan dalam proses mempengaruhi orang lain sendiri sebenarnya merupakan proses komunikasi, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan leadership is communication.

Dalam sebuah kepemimpinan terdapat pemimpin (leader) dan yang dipimpin (follower), yang di antaranya saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Untuk itu di sinilah peran pentingnya komunikasi khususnya dalam menggalang mutual understanding sebagai dasar pokok untuk menumbuhkan sense of belonging dari kelompoknya.

4. Cerdas (Fathanah)
Pentingnya sebuah kecerdasan bagi pemimpin mutlak diperlukan agar tujuan kepemimpinan agar tercapai. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan kepemimpinan. Di samping itu pemimpin harus mengetahui juga seluk-beluk bidang yang dikelola organisasinya, bahkan terdapat juga organisasi yang menuntut pemimpin memiliki keterampilan atau keahlian yang memadai di bidang tersebut. Sehingga pemimpin akan mampu memberikan bimbingan, petunjuk, dan pengarahan pada anggotanya yang memerlukan. Pada tahap berikutnya kemampuan di bidangnya itu, akan sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan pengawasan (kontrol) yang efektif.

Pemimpin yang cerdas tidak sekedar mampu menguasai seluk beluk bidangnya saja, namun lebih jauh memiliki dimensi ruhani yang kuat. Keputusan-keputusannya menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur. Seorang yang fathanah itu tidak saja cerdas tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam berfikir dan bertindak.

Penulis:
Maulana Ahmad Siddiq
(Ketua Umum HMI Koorkom Unisba)

Facebook Comments

Terpopuler

To Top