Coretan

Mahasiswa Kupu-Kupu

BAWAKALEM. Mahasiswa yang larut dalam akademiknya, sehingga melupakan pergaulan sosialnya alias mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) adalah salah satu tipe mahasiswa yang ada di dunia perkuliahan. Memilih tidak mengikuti organisasi di kampus bukan berarti apatis.

Dulu, saya berpikir seperti itu. Hanya sekadar kuliah saja tidak cukup menjadikan kita sebagai manusia yang berkualitas.

Saya baru mengerti bahwa pilihan teman-teman mahasiswa untuk lebih fokus kuliah bukan tanpa alasan.

Bidang kuliah yang sedang kita geluti sekarang ini adalah pilihan kita, passion kita, apa yang kita inginkan. Semakin belajar, semakin kita mengetahui banyak hal, semakin kita tertarik untuk mempelajari lebih jauh lagi.

Kita mungkin akan terlalu asyik dengan dunia kita, bergelut dengan pengetahuan yang tak ada habisnya dikupas, selalu kekurangan waktu untuk membaca dan berdiskusi. Rasanya menyenangkan mendapatkan ilmu baru yang bikin kita ber “oohh oohh” ria.

Maka dari itu, adalah wajar apabila mahasiswa memilih untuk fokus terhadap kuliahnya. Karena ternyata, rasa selalu ingin tahu itu yang mendorong mahasiswa untuk terus menerus mempelajari hal-hal yang ia sukai. Apalagi, jika bidang kuliah yang digeluti menuntut konsentrasi yang tinggi dan benar-benar “minta dipelajari” setiap waktu.

Namun, kita tidak boleh melupakan kenyataan bahwa kita adalah manusia, makhluk sosial.

Kita masih butuh berbicara dengan orang lain. Kita masih butuh ruang diskusi yang tidak bisa hanya didapat di ruang kelas. Kita masih butuh sebuah wadah yang dapat mengimplementasikan apa yang sudah kita pelajari di kelas. Kita masih butuh belajar banyak hal yang tidak hanya soal materi kuliah. Misalnya belajar memahami karakter setiap individu, bagaimana cara memanajemen konflik, bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah. Kita masih butuh ditantang untuk menguatkan mental kita dan membentuk karakter kita menjadi sosok yang lebih berkualitas.

Caranya adalah dengan masuk organisasi. Bahkan sebenarnya tidak harus bergabung dalam suatu organisasi. Mengikuti sebuah kepanitiaan bisa jadi pilihan untuk mahasiswa yang tidak mau terikat namun ingin berkontribusi secara nyata untuk kegiatan di lingkungan kampus.

Mengikuti forum diskusi yang diadakan secara terbuka di kampus juga bisa diikuti. Siapa tahu bisa mendebatkan apa yang sudah dibaca dengan pemaparan saat diskusi? Atau bahkan mendapatkan kejelasan dari apa yang dibaca di buku. Pikiran kita akan jauh lebih terbuka dan kita akan berpikir jauh ke depan. Juga, menjadi mahasiswa yang kritis.

Yang paling penting dari semua itu adalah kita akan mendapatkan teman yang lebih banyak lagi. Karena sekali lagi, kita adalah makhluk sosial yang masih membutuhkan bantuan orang lain.

Namun, tetap harus kita hargai teman-teman kita yang tidak aktif berorganisasi. Karena, siapa yang tahu kalau ternyata diluar kampus dia aktif di berbagai komunitas yang lebih meningkatkan kualitas dirinya? Siapa yang tahu kalau ternyata diluar kampus dia bekerja untuk membantu keluarganya? Siapa yang tahu kalau ternyata dia yang suka nongkrong di warung kopi justru sering diskusi dan wawasannya luas? Siapa yang tahu kalau ternyata dia yang jarang masuk kuliah justru sedang keliling Indonesia atau bahkan keliling dunia untuk ikut kegiatan setingkat internasional? Siapa yang tahu kalau ternyata dia sedang dalam masa karantina untuk kejuaraan?

Teman-teman yang tidak aktif berorganisasi tidak menutup kemungkinan lebih hebat dibandingkan teman-teman yang aktif berorganisasi. Karena sebenarnya, setiap orang punya jalannya masing-masing untuk menjadi seseorang yang berkualitas. Banyak cara untuk meningkatkan kualitas diri. Berorganisasi salah satu caranya.

Tapi teman-teman, berorganisasi atau tidak, itu pilihanmu.

Kamu mau jadi mahasiswa yang bagaimana?

Penulis:
Nisrina

Facebook Comments

Terpopuler

To Top