Coretan

Unstoppable

BAWAKALEM. Aku sulit untuk melangkah pergi, karena masih saja aku meluangkan waktu untuk sekedar terdiam dan masuk dalam ingatan itu. Kala ucapan menjadi penghias utama mimpi, sulit di gambarkan karena alam idea ku terlampau sempurna terhadapmu.

Aku ingat kembali, hitungan matematis terlalu sederhana menghitung berapa waktu yang kita sia-siakan untuk berharap kesempurnaan itu hadir. Hingga nyatanya tak kunjung tiba, aku kembali dan tetap sama. Kau yang sama tak masalah bagiku, namun bingkaimu yang sama membuatku ragu.

Aku terlalu bodoh mengharapkan kesempurnaan kepada selain Tuhan, dan aku lupa berkaca bahwa diriku jauh dari makna nama ku.. sempurna. KIni kita terbangun, mungkin harapan itu akan tetap ada, tetap menghiasi, dan mungkin tetap dalam alam idea.

Biarkan aku tetap disana, barangkali kita ingin kembali sekedar mengingat kala jenuh menghampiri realitas. Tangan Tuhan masih kita harapkan untuk menyentuh takdir kita, terjadi atau tidak, kau tetap sempurna dalam alam ideaku. Alea..

Tangismu menjadi teguran bagiku, rindu yang tak lagi tertahan, hasrat yang tak lagi terungkap, dan cinta yang tak lagi teruarai. Hingga aku sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Rasa dalam hati itu abstrak, tak seorang pun dapat menolak ketika ia hadir.

Terkadang menjadi sebuah ujian, seringkali menjadi Tuhan bagi sang perasa. Bisa juga menjadi bukti kebesaran-Nya. Hati seringkali menjadi objek untuk ia hinggap, karena dalam hati segala hal pahit, romantis, bahagia, duka atau sesekali sesuatu yang sulit untuk diungkapkan berada disana.

Dan saat telah berwujud, maka rasa mengubah dirinya menjadi sesuatu hal yang nampak. Menyebalkan atau menyenangkan, bisa merasa dicintai atau justeru di benci. Itu dia rasa, dengan segala dinamikanya, ia berhasil mengubah konsep konsisten diri.

Alea, kini kau semakin dewasa. Juga diriku, aku semakin mengagumimu, kau tak lagi nampak seperti seorang wanita dengan kacamata dan jeans yang kau pakai. Kini, kau bak puisi yang selalu ku baca berulang-ulang.

Aku tahu kau berduka, beberapa kali, atau bahkan sering kau tersakiti, aku faham betul. Tapi aku tak mampu menahan takdir, rindu itu pasti, tapi apakah kau tahu?

Andai rindu itu adalah sebuah dosa, aku manusia yang tidak akan taat terhadap itu. Karena setiap terasa hanya akan membuahkan dosa. Aku merasa ini sudah tidak tepat, bukan hal yang bisa aku lakulan kembali.

Membayangkan mu kini bagai ranjau, setiap ku melangkah aku akan melukai tembok besar yang telah ku bangun. Ia rapuh, dan akan mudah terluka. Aku tak mampu melihatnya terluka, oleh karena itu, dengan melupakan mu ia akan tetap ada.
Aku? Egois memang, hanya memikirkan diriku dan tembok nan indah itu.

Aku harap kau segera pulih, kau mampu membangun kembali. Jangan kau menjadi dingin dan seolah tak ingin bermain hati. Percayalah, hal itu akan indah jika kau bangun dengan orang yang tepat. Aku? Bukan Alea.

Kata Dilan, rindu itu berat. Iya memang, aku rasakan itu. Tapi berat yang ku rasa bukan terletak pada sebuah pertemuan yang harus di penuhi. Tapi, berat terhadap pertanggung jawaban akan rindu itu. Maha Besar Tuhan ciptakan hati, ia sangat lembut dan seringkali sulit untuk mendefinisikannya.

Rindu hinggap pada hati yang hampa, pada pikiran yang tak logis, pada waktu yang tak diinginkan. Ia membaur bersama suasana yang sendu, pada jarak yang tak lagi di pertemukan.

Aku sebagai subjek yang merindu, dan Kau sebagai objek yang dirindu. Jika orang membicarakan tentang kita, aku atau kau menjadi Dia, karena aku atau kau menjadi kata ganti orang ketiga.

Aku teringat perkataan seorang Sufi pada zamannya, ia bernama Jabir, ia mengembangkan hipotesis Zikrullah dengan pendekatan dhamir (kata ganti). Jabir membahas kata ganti ana/saya (orang pertama), anta/kamu (orang kedua), dan huwa/dia (orang ketiga). Misalnya, ketika aku bertemu dengan kau, lalu aku bertanya: “apakah kamu rindu?”.

Kata kamu/anta kalimat tersebut merujuk padamu yang tengah berada di hadapan ku. Lalu kau menjawab “ia benar aku rindu”. Dalam kalimat ini, kata aku/ana merujuk pada dirimu sendiri. Selanjutnya, ketika dialog tersebut menjadi sebuah berita dan orang lain menceritakan kita maka kata ganti itu berubah menjadi Dia/huwa, yang juga ditujukan padamu.

Persoalannya, setelah kau meninggal dunia, kemana kembalinya kata ganti (dhamir) yang pernah merujuk padamu. Sederhananya bagaimana nasib kata ganti setelah semua makhluk sirna?

Bagi Jabir Bin Hayyan, kembalinya kata ganti itu pada Tuhan. ‘aku, kamu, dan dia’ yang hakiki, yakni dzat yang paling berhak mengucapkan kata ‘aku’, yang paling berhak diucapkan ‘kamu’, dan yang paling berhak diberikan dengan ungkapan ‘Dia’, siapakah dia? Yaitu Allah Azza Wajalla.

Begitulah kisah yang kubaca dari buku berjudul Tadabbur Cinta, sebuah kisah yang mengubah konsep berpikirku mengenai rindu. Aku menjadi enggan untuk merindu padamu terlalu lama, aku tidak sanggup jika harus merindu pada sesuatu yang bersifat materil. Karena semua itu akan sirna, Alea. Ku harap kau pun begitu, menemukan konsep diri yang akan mendewasakan dirimu.

Penulis:
Mehmet Akmal Siyamsyah

Facebook Comments

Terpopuler

To Top