Coretan

Kereta Api Bandung-Jakarta

BAWAKALEM. Pagi, tepatnya pukul 06.00 WIB. Aku bertemu denganmu di Stasiun Kereta Api Bandung. Udara yang dingin pada waktu itu mengantarkanku menemui dirimu. Aku melihatmu, sedang kau duduk manis di salah satu bangku ruang tunggu itu.

Sapaku menyertaimu, dan kau balas itu dengan senyum manismu. Ahhh, rasanya pagi ini matahari pun akan cepat naik dari semestinya.

Aku pun bergegas, untuk mengajakmu segera menaiki transportasi besi yang memanjang itu. Dua lembar tiket pun aku siapkan, dengan dua kartu E-Ktp yang sempat viral karena kasus korupsinya.

Satu orang petugas kereta tepat berdiam diri di pintu gerbang besi berwarna putih. Dengan teknologi canggih identitasku terlacak oleh petugas itu. Jaman sudah berbeda semuanya mesti dengan teknologi. Tapi ya sudahlah kita jadikan teknologi sebagai kebermanfaatan bukan sebagai alat kebodohan.

Sampailah aku dalam sebuah ruangan yang disebut dengan pemberhentian. Rel kereta berjajar lengkap dengan gerbong yang akan membawa penumpangnya. Aku pun mencari kereta yang bermerk Argo Parahyangan kelas Ekonomi. Maklum orang susah pakenya ekonomi. Gak kebeli eksekutif mah.

Di setiap kehidupan, perbedaan kelas adalah keniscayaan. Teori karl marx yang berbicara mengenai perjuangan kelas antara kaum borjuis dan proletar yang pada akhirnya melahirkan masyarakat tanpa kelas mungkin susah terwujud. Karena pertentangan kelas itu lahir dari semesta. Misal, baik dan buruk, kaya dan miskin, jelek dan ganteng, itu semua sudah menjadi keniscayaan semesta.

Sedikit intermezo. Akhirnya, aku pun menemukan kereta kelas ekonomi itu, langkah kakiku bergegas untuk menaiki kereta dengan celana robek yang sempat mengundang malu kepadaku. Aneh, padahal celana ini mahal dan bermerk, kok baru dipakai sudah robek saja. Rasanya inginku membeli lagi yang lebih mahal, tapi tak punya uang. Maklum kelasnya juga ekonomi.

Celana robek itu pun menjadi tawa, saat kita berdua duduk di bangku bernomor 14 A dan 14 B, yang akan mengantarkan kita ke daerah Ibu Kota.

Sepanjang perjalanan, aku menatapmu lama tanpa batas. Tanganku memegangmu erat dengan rasa. Canda tawamu mengiringi perjalanan kita saat aku mengajakmu permainan anak kecil yang sempat kita mainkan dahulu.

Stasiun demi stasiun kita lewati, matamu mulai meredup merasakan goyangan kereta api yang membuatmu tertidur. Manis dan terlihat natural wajahmu saat itu. Dalam hati, sempatku berkata: “Tuhan, berikan aku nafas yang panjang, agar aku bisa terus melihat dirinya saat tersenyum dan melihat dirinya saat tertidur. Karena saat itulah aku merasakan kebahagiaan yang tak terbatas”.

Penulis:
Yudha Satria

Facebook Comments

Terpopuler

To Top