Coretan

Hujan, Siapa Dia?

BAWAKALEM. “Kalau kamu memang suka hujan, lantas mengapa kau berteduh?” tanya pria disampingku yang entah siapa dia.
“Hah? Baiklah, aku akan pergi” jawabku sambil bergerak menembus hujan.
“Hey.. hey.. tunggu! maksudkuuu..” suara yang terdengar setelah aku pergi, yang semakin lama suara itu semakin samar.

Rintikan hujan ku biarkan terus membasahi bajuku, tidak ku coba untuk berlari mencari tempat berteduh lagi, karena benar apa kata pria tadi, bukankah aku ini seorang pluviophile? bahwa aku ini seorang pengagum hujan, dan “Siapa sih pria tadi, kenapa dia tidak mengejarku?” bisikan angan yang segera ku enyahkan.

Aku tidak ingin cepat sampai rumah saat ini, dengan sengaja, ku lambatkan langkah kaki ini yang ramai oleh rintikan hujan yang kian lama semakin deras.

Aku tak peduli dengan orang disekitarku, yang memandangku iba seolah ingin menawariku sebuah payung, aku ingin bersama hujan saat ini.

Dibawah dinginnya hujan yang terus menerpaku, seolah langit pun menertawakan tingkah kekanak-kanakan ku ini.

Aku bahagia, karena hujan mengajak anganku mengenang kebiasaan-kebiasaan masa kecilku.

“Nak.. sedang apa? Kamu gak tertarik ikut temen-temenmu di luar sana?” tanya ibu lembut.
“Wah, memang boleh bu ?” tanyaku lagi dengan antusias.
“Hmm, boleh dong, kenapa enggak? Tapi ingat, jangan lama-lama ya anakku” ucap ibu.
“Horee.. ” seketika langsung bergegas menuju teman-teman di luar rumah.

Ya..benar, di usiaku yang masih enam tahun, sore itu aku asyik bermain hujan dengan teman-teman. Aku bisa bebas berteriak, berlari kesana kemari saling mengejar dengan teman-teman lainnya.

Aku bisa merasakan betapa sejuknya hujan saat mengenai tubuhku, menetes pada wajah ketika ku pandang langit hujan. Aku tidak merasakan dingin, karena aku menikmati ini.

“Bu, kenapa sih ibu ngebolehin aku buat main hujan tadi?” tanyaku sambil memegang coklat panas favorit buatan ibu.
“Kau senang Nak..?” tanya ibu.
“Seneng banget Bu” jawabku.
“Tahukah kau Nak, hujan itu menyenangkan bukan? Ibu tidak ingin kau membenci hujan. Ketika orang lain banyak yang mengeluh hujan datang, justru kita harus berterima kasih sama Allah.” terang ibu.
” Berterima Kasih Bu?” tanyaku lagi.
“Iya Nak.. bersyukur sama Allah, karena hujan adalah rahmat dari-Nya, hujan adalah wujud nyata dari rahmat Allah untuk seluruh makhluk. Allah bilang gini Nak..
-Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji- (QS. Asy Syuura: 28).
Bukan kamu saja yang bahagia Nak, manfaat hujan juga dirasakan oleh tumbuhan, hewan, biji tanaman, dataran rendah, dan pegunungan, mereka juga bahagia.” jelas ibu padaku.
“Waah, luar biasa Bu..” mataku terus fokus memandang wajah Ibu yang teduh.

Pintu gerbang rumah sudah terlihat melambai-lambai mengajakku untuk mempercepat langkah menuju rumah. Aku melihat wajah teduh itu di beranda rumah yang terlihat cemas menunggu seseorang.
Akhirnya, aku tiba di rumah setelah hujan tak henti menemani dalam perjalananku.

Setelah aku dimanjakan dengan coklat panas favorit buatan ibuku dan berganti pakaian.
Tiba-tiba suara ketuk pintu dari luar terdengar, dan ketika aku mencoba untuk melihat di balik jendela. “Hah..dia? Bukankah itu pria tadi?” berjalan menuju Ibu yang hendak membuka pintu.
“Bu, kalau ada yang mencariku, bilang saja tidak ada ya” ucapku pada ibu.
“Lho, kenapa?” tanya ibu heran.
“Please Bu”
“Baiklah Nak..” ibu beranjak segera menuju pintu.

“Nak..”
“Gimana Bu? Apa tadi dia nanyain aku”
“Tadi dia bilang, dia tidak akan menemui kamu, tapi dia ngasih ibu kertas ini untuk kamu”
“Kertas Bu?”

Dengan penasaran aku membuka kertas ini, setelah beranjak menuju kasurku yang empuk.
Kertas itu hanya bertuliskan,
“Aku cemburu pada Hujan..”

Bersambung..
#part1

Shinda Istian Ruhama
Bandung.

Facebook Comments

Terpopuler

To Top