Coretan

Cerminanmu, Sahabatmu

BAWAKALEM. “Berikanlah perhatian kepada sahabatmu, karena mereka menjadi bekal kalian di dunia dan akhirat.” (Ali bi Abi Thalib Karromallahu Wajha).

Sebagai makhluk sosial, sudah dari sananya kita perlu sahabat. Dengan memiliki sahabat, banyak yang kita dapat pelajari dalam angka perbaikan diri kita. Petinju legendaris Muhammad Ali pernah mengungkapkan;

“Persahabatan hal tersulit untuk dijelaskan di dunia ini. Dan ini bukan soal apa yang anda pelajari di sekolah. Tetapi bila anda tidak pernah belajar makna persahabatan, anda bena-benar tidak belajar apapun.”

Sebenarnya kita bisa saja hidup dengan semau kita, melakukan apapun seenaknya, untuk kepentingan diri sendiri. Bisa saja kita melakoni segala hal dalam ini, tanpa peduli dengan yang lain. Menikmati kesenangan sendiri, merasakan kebahagia, dan kesuksesan untuk diri sendiri.

Tetapi sayangnya kita sebagai muslim tahu, bahwa hidup tak hanya diciptakan dengan tujuan sesederhana itu. Kita sebagai muslim sadar, bahwa hidup tak diciptakan untuk tujuan yang sesedehana yang kita inginkan. Kita mengerti bahwa hidup ini sebuah pilihan, untuk melakoni seadanya, atau bergerak menebar kasih sayang dan cinta, menyebarkan energi dalam diri kita, dan senantiasa berusaha menjadi berarti bagi semua.

Akan tetapi sering sekali sifat egois lebih tampak dari kepribadian kita dari pada sikap loyal terhadap semua orang meskipun kita menyadari bahwa kita mutlak butuh orang lain untuk dapat menyelesaikan segala persoalan hidup, tetapi sikap individualis sering kali melanda.

Banyak yang lebih tertarik untuk merasa dirinya dihargai, merasa lebih penting, terhormat, dan lebih punya nilai.

Inilah yang membuat kita terkadang susah membina sebuah persahabatan. Tidak berlebihan kiranya, kalau boleh di bilang salah satu hal yang paling sulit dilakukan adalah merendah dihadapan orang lain. Ya, kerendahan hati seolah menjadi “barang langka” saat ini. Padahal seorang teman akan membuat kita hangat dengan kehadirannya, mempercayai akan rahasianya, dan mengingat kita dalam do’a-doanya.

Les Giblin pernah mengatakan, bahwa 90% kegagalan dalam kehidupan seseorang adalah karena gagal dalam membina hubungan baik dengan orang lain. Sebuah penelitian bahkan mengatakan kalau kesuksesan seseorang 85% di tentukan oleh kemampuan berhubungan baik dengan orang lain (people knowledge) dan hanya 15% ditentukan oleh pengetahuan tentang produk (Product Knowledge).

Cinta kepada Alah adalah puncaknya cinta. Lembahnya cinta adalah cinta kepada sesama. Apabila anda mengaku beriman kepada Allah dan Rasulnya, tetapi mengabaikan nilai–nilai persaudaraan, anda telah berdusta. Tidak mungkin seseorang mukmin tidak mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya. Mungkin sering kita mengabaikan harga seorang sahabat di saat kita dalam ketenangan. Namun, di saat dunia semakin menyempit akibat persoalan hidup yang semakin sulit, kita tanpa malu curhat ,meneteskan air mata dan merengsek di depannya, jadi jangan pernah menyia-nyiakan sahabat kita.

Dalam islam, persahabatan bukan untuk meraih manfaat di dunia semata. Tapi untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Selektif dalam memilih sahabat. Karena kesalahan memilih bisa–bisa dunia akhirat akan kita tanggung akibatnya. Sebagaimana kebaikan, keburukan pun bagaikan penyakit menular. Orang yang pergaulannya salah, sering kali berdampak pada perubahan akhlaknya menuju pada akhlak sahabatnya.

“Orang itu mengikuti agama temannya dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR. Tirmidzi)

Penulis: Ira Wahyudi

Facebook Comments

Terpopuler

To Top