Coretan

NU Dan Cita Politik Islam

BAWAKALEM. Nahdatul Ulama atau yang sering disingkat NU didirikan pada tanggal 31 januari 1926 di Surabaya oleh KH Hasyim Asy’ari bersama beberapa ualama yang sepaham seperti KH. Wahab Hasbullah serta beberapa ulama pesantren lainnya.

Jamiyyah ini merupakan usaha sederhana dalam pelembagaan tradisi keagamaan yang telah lama mengakar. Motivasi pembentukan jam’iyah ini terutama dilatarbelakangi oleh situasi keagamaan pada waktu itu.

Khususnya berkaitan dengan semakin derasnya arus pembaharuan Islam yang dipandang dapat mengganggu eksistensi tradisi keagamaan yang telah kuat mengakar dikalangan masyarakat muslim Indonesia sebagai organisasi wadah persatuan ulama dalam tugas memimpin umat menuju tercapainya Izzul Islam wal Muslimin.

Sebelum menjadi suatu organisasi yang besar, NU memeiliki pemikiran yang konseptual menurut H. Muhammad Syakur dalam tulisannya menyebutkan bahwa konsep-konsep tersebut juga tidak lepas dari orientasi-orientasi yang menjadi rahimnya, yang meliputi meliputi kesadaran membangun potensi umat yang melahirkan organisasi Nahdlatul Tujjar tahun 1918; kesadaran pengembangan keilmuan, sosial dan budaya yang melahirkan organisasi Taswirul Afkar tahun 1922; dan kesadaran berbangsa yang melahirkan organisasi Nahdlatul Wathon tahun 1924.

Terlepas dari kemajuan perkembangan organisasi ini, NU memiliki tokoh-tokoh sentral dalam pergerakan kemajuan organisasinya, yang senantiasa ikut berperan aktif dalam memberikan gagasan-gagasan demi melahirkan kesejahteraan umat. Para tokoh ulama ini, sehingga berdampak terhadap pemahaman keagamaan dan kemasyarakatan terutama untuk melahirkan kader-kader bangsa.

Dikutip dari almunawwar.or.id, NU memiliki sepuluh ulama yang paling berpengaruh besar diantaranya Hadratusy syaikh KH. Hasyim Asy’ari, Abdul Wahab Chasbullah, Bisri Syansuri, Ahmad Shiddiq, KH. Wahid Hasyim, M. Ilyas Ruhiat, KH. M.A Sahal Mahfudz, KH. Idham Chalid, Ali Ma’shum dan KH. Abdurahman Wahid.

NU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia yang keberadaannya cukup dikenal di kalangan masyarakat ini terbukti berdasarkan penelitian Alvara Research Center, sekitar 97 persen penduduk Indonesia tahu organisasi yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Hal itu dikemukakan CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali di Gedung PBNU, Jakarta pada Senin (30/1). NU memiliki perbedaan denga ormas lainnya dalam segi corak pemikirannya yang tradisionalis hal ini terbukti dari kelahirannya yang lebih didasarkan atas semangat dan tanggung jawab keagamaan, baik dalam usaha memelihara tradisi ajarannya maupun keutuhan para penganutnya, disisi lain juga bisa dilihat dari lebih contonnya NU pada upaya mempertahankan madzhab syafi’iyah.

Dalam perjalanannya NU memiliki peran yang cukup besar terhadap perpolitikan di indonesia, Asep S Muhtadin dalam bukunya meretas jalan dakwah menjelaskan, bahwa pola prilaku reaktif terhadap pembaharuan Islam yang dikembangkan kelompok reformis umpamanya, ternyata menjadi ciri penting yang mewarnai perjalanan dinamika politik NU.

Seperti dikatakan Karimi (1995), NU sejak awal telah memiliki potensi politik yang tidak bisa dianggap kecil. Keterlibatan NU dalam kancah politik secara segnifikant baru dimulai pada tahun 1939, ketika bergabung dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang dibentuk pada tahun 1937.

Tak berhenti sampai disitu, NU juga banyak terlibat dalam pergerakan politik hingga saat ini contohnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada 23 Juli PKB lahir dan menjadi sebuah partai politik yang berideologi nasionalis religus di Indonesia yang didirikan oleh para kiai-kiai dari Nahdatul Ulama atas usulan dari warga NU diseluruh pelosok Indonesia dikutip dari www.idntimes.com yang diterbitkan pada 12 maret 2018.

Pada Pilpres 2019 ini, salah satu tokoh NU yaitu Kiai Ma’ruf Amin dideklarasikan oleh Jokowi sebagai cawapres, sikap politik ini merupakan pertunjukan politik yang cukup mengejutkan bagi banyak kalangan. Kiai Ma’ruf Amin adalah Rais Aam PBNU. Hal ini menjadikan Kiai Ma’ruf Amin msebagai salah satu symbol politik NU.

Fenomena politik NU sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an memperlihatkan warnanya yang lebih progresif. Berbagai aksi sosial yang serat dengan nuansa politikpun dilakukan oleh sejumlah elit NU, seperti tampilnya ketua Umum PBNU, Adurrahman Wahid, sebagai Ketua Forum Demokrasi, serta sikapnya yang membuat jarak dengan ICMI, justru banyak didukung oleh kekuasaan dan kalangan cendikiawan secara nasional.

Hingga saat ini pun NU berperan aktif dalam menjaga kesatuan umat, umumnya kesatuan bangsa Indonesia. Tahun 1984, NU memilih Kyai Abdurahman Wahid atau Gus Dur sebagai ketua umum pengurus besar nahdatul ulama. Kepemimpinan Gus Dur di NU juga mengantarkan dia sebagai tokoh nasional dengan gagasa toleransi kebangsaan yang menjlankan hubungan antar umat beragama. Gus Dur bahkan kemudian terpilih sebagai presiden republik Indonesia pada tahun 1999, sebelum dijatuhkan oleh MPR pada tahun 2001.

Berdasarkan uraian diatas organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini, terus bergerak dinamis dalam perjalanannya, melalui jejak-jejak dakwah politik Nahdatul Ulama. Dengan gaya komunikasinya yang tampak lebih lunak mampu diterima diseluruh kalangan. NU sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia ini cukup berpengaruh dalam kemajuan bangsa Indonesia terutama pada bidang politik Islam.

Destira Salimni Putri
Bandung, 12 Desember 2018

Facebook Comments

Terpopuler

To Top