Coretan

Tunggu Hujan Reda, Baru Kau Ku Balas

BAWAKALEM. Sepekan lalu, aku masih duduk di bangku taman itu. Taman yang selalu berbunga setiap hari, tak kenal musim. Kita berdua biasa menghabiskan waktu disana. Mulai dari membicarakan berapa butir beras yang dimakannya setiap hari, sampai petani padi yang tidak pernah lebih sejahtera dari pada yang mengonsumsi nasi. Semua itu dilakukan dengan perasaan gembira, sekalipun hanya saling bertukar pandang, aku bahagia.

Itu sepekan lalu, lain dengan hari ini. Aku tidak bisa mengunjungi taman itu sekarang, hujan sedang lebat-lebatnya. Musababnya, dia merusak lapisan pelindung yang terbuat dari perasaan yang sangat kuat. Air pun tidak hanya turun dari mata, tapi juga langit. Syukur tidak sampai merendam taman dimana seharusnya aku duduk.

Cuaca begini membawaku pada memori masa lalu dimana kita pernah duduk berdua di kereta menuju kota tempat kelahiranmu. Awalnya aku hanya ingin pergi sendiri ke kota itu, tapi kebetulan rumahnya disana juga. Aku pun mengiyakan tawarannya, tidak mungkin aku menolak hal yang dapat membuatku tersenyum. Meski sempat menolak kenyataan bahwa aku bahagia jika sedang dengannya.

Matahari masih tidur saat kita bertemu di stasiun yang sepi. Hanya ada petugas dan beberapa penumpang yang sendiri. Ya, sendiri. Sepertinya hanya aku yang pergi bersama seorang teman. Seorang laki-laki duduk di kursi ruang tunggu deret pertama paling ujung. Membuka sebuah kliping berisikan potongan-potongan berita tentang sebuah kecelakaan mobil. Aku tengok, tatapannya kosong dan raut mukanya datar. Mungkin itu yang dinamakan ekspresi kehilangan.

Sebuah tangan menepuk pundakku, hangat. Menghentikan pengamatanku pada bapak yang aku tebak sedang larut dalam kesedihan. Itu tangannya, yang memberikan kode agar aku segera bersiap karena kereta akan segera datang. Dalam diam kita masuk lalu duduk di dalam kereta yang akan membawa kita ke cerita di masa depan.

Kita larut dalam perbincangan tentang taman yang sering kita singgahi. Taman itu memang selalu dirindukan, terlalu banyak hal-hal indah disana. Semua kenangan manis tertanam dan tumbuh menjadi bunga dengan warna-warni pastel. Bukan punyaku saja, bunga kenangan miliknya pun sama indahnya.

Dia pernah berkata, ada dua cara membuat dua orang menjadi dekat. Saling mencintai atau saling membenci. Kenyataannya kita di pertemukan bukan oleh kedua hal tersebut, tapi malah hanya dengan diam. Siapa sangka bisu yang menyergap kita malam itu jadi alasan kita melanjutkan komunikasi yang berarti ini.

Berbeda dengan teman satu rumahnya yang dia temui saat emosi sedang ada di mode marah. Baku hantam terlanjur dilayangkan, masih untung tidak sampai ada yang mati di tempat. Anehnya, setelah kejadian itu mereka malah memutuskan hidup dalam satu atap bersama beberapa teman lainnya. Entah apa rencananya, yang jelas aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, aku terlanjur tersenyum luar dalam. Jika sudah begitu, sulit untukku meredupkannya lagi.

Tinggal melewati tiga stasiun lagi untuk sampai di kota. Aku menginginkan hal klise yang terjadi pada insan yang sedang jatuh hati. Aku menginginkan waktu bergerak melambat agar bisa lebih lama bersamanya. Tapi keadaan berkata lain, rasanya baru satu kali mengedip stasiun yang dituju sudah ada di depan mata.

Dia membawa satu tas besar di punggungnya dan menenteng tas pakaianku. Dia yang memaksa membawakannya, lagi-lagi aku hanya bisa berkata iya. Tentunya dengan senyum yang ditahan. Takut dia melihatku yang sangat mudah bahagia hanya karena perbuatannya yang sederhana.

Satu langkah lagi keluar gerbang, tiba-tiba air turun sangat deras. Tanpa aba-aba kaki ini bergerak mundur menghindar dari serangan air hujan, untungnya tidak ada satupun dari kita yang basah kuyup. Mendadak dia memejamkan mata, entah apa maksudnya. Mungkinkah dia sedang menikmati suara rintik hujan? Setelah hitungan ke tiga puluh dia pun membuka matanya.

Tunggu disini, aku akan segera kembali.

Begitulah kalimat yang keluar setelah dia memejamkan mata. Tak ada waktu untuk bertanya, dia amat sangat tergesa. Untuk kesekian kalinya aku menjawab ‘iya’. Dengan segala pertanyaan yang menyeruak, punggungnya menjauh sampai tak nampak lagi. Aku pikir mungkin dia sedang mencari cara agar kita dapat melanjutkan perjalanan tanpa harus kebasahan.

Sembari menunggu, aku mengamati tiap tetesan hujan yang jatuh ke tanah dan yang tertahan di kaca jendela. Seketika syahdu. Sampai lupa ternyata aku sudah menunggunya terlalu lama. Cemas mulai menghampiri, satu hal yang ada di pikiranku ‘apa yang terjadi?’. Hujan masih belum berhenti dan dia tak kunjung kembali. Isi kepalaku sudah bisik-bisik pada hati agar sabar sedikit lagi. Andai saja menunggu itu menyenangkan, tidak menjadi masalah jika aku harus terus mematung disini, akan aku jabani.

Selalu saat hujan deras datang, ingatan di masa lalu kembali. Seakan proyektor yang sedang menampilkan kejadian demi kejadiaan, menembakkan cahayanya ke hujan. Potongan-potongan gambar saat aku kecil dulu muncul. Ada Ayah disana, yang sedang melangkah pergi meninggalkan aku dan Ibu padahal hujan sedang deras-derasnya. Saat itu aku masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi.

Seketika aku tersentak dan sadar kalau ini pun sedang hujan. Sekarang aku sudah mulai mengerti pola dari apa-apa yang menimpaku. Hujan deras. Ya, selalu saja saat hujan deras nasib malang akan datang menghampiri. Sejauh ini, ‘ditinggalkan’ adalah yang selalu jadi nasib malangku.

Tiga puluh menit, aku masih tenang. Satu jam, mulai usahaku menenangkan diri. Satu jam tiga puluh menit aku mulai gusar, mungkinkah akan kembali terulang? Dua jam, pikiran ini sudah tak jernih. Amarah mengalir yang sederas air hujan yang jatuh ke tingkap. Baru terasa sekarang sakitnya, ditinggal ketika hujan sedang deras-derasnya. Sampai hujan berhenti, sampai semua ini meredam, baru kau ku balas.

I7

Facebook Comments

Terpopuler

To Top