Coretan

Tentangku Yang Dambakanmu, Dan Tuhanku Yang Pencemburu

BAWAKALEM. Dulu, tapi tidak dulu sekali karena seragamku tak lagi putih merah. Ku ingat, saat itu menyukai salah satu makhluk Tuhan dan juga mengagumi makhluk lainnya yang menjadi bintang kelas saat itu. Berusaha berlari mengejarnya, memaksakan diri sekedar untuk dapat perhatiannya.

Aneh bukan? Betapa ku ingin diakuinya, tapi begitulah adanya.

Sementara, Tuhan selalu ada mendekatiku, meski keberadaan-Nya ku sambut dengan abai.

Setahun kemudian, takdir-Nya berkata bahwa ku dapati dirinya.

Senang rasanya! Saking senangnya, hari demi hari ku tunggu kabarnya, tiap waktu penuh hiasnya, seolah dia bagian vital yang menjadi nyawa.

Selama berbulan-bulan dilalui

Akhirnya, ku berpikir bahwa ini semua tak ada bedanya dengan anak SMP yang duduk berdua di taman ramai tanpa sepengetahuan ibunya dan menghabiskan uang bapaknya.

Ah! Tapi, jauh-jauh hari ku ingin diakuinya! Masa iya ku lepas?

Hatiku berdebar gila dengan situasi yang ada

Disisi lain, memoriku mengungkap kembali kenangannya, banyak dapat dukungannya, doa, dan cinta.

Pening! aku bergelut dengan diri sendiri, tanpa wasit yang jelas

Rupanya ada yang ku lupakan, Tuhanku.

Membuka dialog bersama Tuhan, tumpah ruah segala keresahan serta penuh pengharapan agar dibina-Nya menuju kebaikan dan kebenaran.

“Tuhan, izin-Mu memberikan otoritas bagi akalku untuk mampu memutuskan perkara-perkara yang aku alami namun bimbinglah dalam setiap keputusan yang akan diambil. Tuhan, maaf aku telah mengabaikan-Mu. Patutkah aku dapat pertolongan-Mu? Aku malu. Terimakasih telah menyadarkanku, saat ini ku serahkan segala urusan pada-Mu wahai Tuhanku”.

Hanya satu yang menjadi bekal, Yakin.

Dua puluh empat jam, enam puluh menit, dan enam puluh detik saling berganti peran untuk menjawab segala tanya sang resah dan mengagah setiap rasa penuh gundah.

Hingga akhirnya Tuhan meyakinkan diriku, “Lepas! Aku tahu yang terbaik untukmu”.

Seolah itulah pesan yakin dari-Nya.

Lisanku selalu basah dengan do’a sederhana, kudapat dari Gurunda..

“Tuhan, jika ini memang untukku maka dekatkanlah. Jika bukan, mohon tunjukkanlah keburukannya!”

Anehnya, selama ini tak ku dapat ini kejelekannya, yang ada hanyalah kebaikan. Namun, hati tetap yakin bahwa melepasnya adalah hal yang harus segera dilakukan. Mungkin saja itu yang Tuhanku mau.

Pada akhirnya, kusadari.

Kenapa hilang? Kenapa rasa itu tiba-tiba menghilang dan secepat kilat berubah hanyalah menjadi sebuah kasih dan sayang sesama makhluk-Nya?

Pujian untuk-Nya.

Ternyata Tuhan cemburu dengan aku yang hanya mencarinya, ritual ibadahku bukan untuk-Nya jika bukan karenanya, pun demikian hubungan vertikal yang lainnya. Seolah ibadahku rajin padahal alasanku beribadah adalah karenanya, mungkin Tuhanku marah karena aku hampir menduakan-Nya atau bahkan sudah?

Maafkanlah, dia tak bersalah! salahku terlalu ingin diakuinya, hingga berlebih mencintainya daripada-Nya.

Ku dapati pelajaran, mengenal ciptaan itu lebih baik jika dengan izin Sang Pencipta sebagai surat pengantar sebuah perjalanan hidup, laiknya menikmati kebun nan indah bersama guide ramah dihiasi senyum sumringah sebagai fasilitas yang disediakan si pemilik kebun. Sebuah kenikmatan yang diterima hati serta selamat hingga akhir destinasi. Dengan lembut diri disambut, dengan hangat sapaan diakhir hajat.

Begitulah jika pemilik sudah me-ridlo-i, segala hal menjadi kenikmatan abadi, duka menjadi luka yang berarti, dan suka menjadi bahagia yang hakiki.

“Sadarilah setiap cinta memang perlu untuk dipenuhi tapi satu cinta-Nya mampu memenuhi segala wadah cinta yang ada.”

Ridfiazhi Aldreka Rinawan
20.12.18/6:28
Tamansari, Kota Bandung

Facebook Comments

Terpopuler

To Top