Coretan

Siapa Yang Tahu?

BAWAKALEM. Empat hari sebelumnya, bumi Lampung dan Banten dirundung duka mendalam. Sang alam tiba-tiba murka. Tanpa sebab, warga dihempas gelombang.

Namanya tsunami, bukan istilah baru. Namun begitu, orang-orang pesisir takut dengan kedatangannya.

Biasanya ia berkabar lewat goncangan yang diikuti air surut. Namun manakala itu, orang-orang sepanjang pesisir Banten dan Lampung tak sempat sadar.

Mereka yang masih tersadar hanya langsung dapat lari. Atau mereka yang terlanjur disapu gelombang, terbata-bata meraih pegangan.

Semampu-mampu, tapi semua mendadak kaku. Hitungan menit, ratusan nyawa jadi korban.

Awalnya BMKG memberi keterangan, “Malam itu purnama. Dia yang menyeret air laut menjadi pasang.”

Ditegaskannya, bukan gelombang tsunami. Tapi informasi mendadak tak guna, nyawa terlanjur hilang.

“Dia Hanya Beribadah”

Warga luar dan dalam. Anak bayi hingga tetua. Orang berlibur atau yang mengais rezeki, tak tersisa. Malam itu malaikat disibukkan mencabut ruh-ruh mereka. 400 lebih jiwa dikabarkan meninggal.

Katanya, Anak Krakatau mengamuk. Seperti ibu yang menggemparkan dunia abad-5 silam. Nama itu disebut lagi saat musibah, seolah anak tengah merindu ibu.

Sejak Juni, dia mulai meraung. Berturut-turut menghembuskan debu erupsi. Bukan pemandangan asing padahal. Warga yang melihat hanya bisa berdoa, Tuhan jangan dulu kau renggut tanah kami.

Tapi siapa yang tahu? Tak ada yang terjadi tanpa dikehendaki. Alam mungkin punya jadwal, tapi itu atas persetujuan-Nya.

Apa yang mesti digugat? Kita hanya diwajibkan turuti yang Ia perintah. Pun begitu, alam dengan siklusnya hanya bertugas.

Maka beribadah lah, terlepas, kelak hari bertemu dengan-Nya mesti dilalui cara bagaimana.

Ananda M. Firdaus.
Anyer-Banten, 26 Desember 2018. 

Facebook Comments

Terpopuler

To Top