Coretan

AL KISAH

BAWAKALEM. Disebuah tanah agraris hiduplah seorang Petani muda yang optimis. Ia sadar, bahwa dipundaknya tertanam harap perluasan ladang yang hendak digarap dimasa datang.

Akhirnya ia memutuskan diri untuk belajar. Menimba ilmu perngetahuan menggali potensi terbaiknya untuk kelak kembali mengembangkan potensi bumi lewat hasil tani.

Tahun berlalu, ia kembali ke sawah yang dahulu memanjakan jiwanya tuk kabarkan berita baik, bahwa sawah akan ia buat mewah.

Namun, nuraninya terhenyak! Pandangannya menjadi terbatas. Pesawahan yang semula terhampar digantikan oleh Perumahan.

Memang ada saja perumahan, yang kerap menggunakan istilah Pesona. Tapi sadar atau tidak, Berdirinya rumah telah membunuh PESONA segungguhnya.

la semakin camas, nanarnya mencoba kuat. memandang langit yang semula rimbun dipayungi Pohon mendadak luas terik tak terteduhkan. karena Cengkraman POHON telah berganti dengan Kokohnya BETON.

Petani muda itu akhirnya bercengkrama, dengan petani lain terkait area sawah yang semakin tidak meIimpah. Lantas, dengan pongah ia mengajukan pertanyaan. “Rek impor terus Wae atuh iyeu teh?!” .

Diantara hangatnya perbincangan ada satu petani membuat berbicara dan membuat semua terdiam dan berpikir petani itu berkata “Semangat baik adalah menanam meski terancam!”

Penulis:
Nurul Khaerunnisa

Facebook Comments

Terpopuler

To Top