Coretan

Sekolah Kehidupan (Menuju Versi Terbaik)

BAWAKALEM. Harus diakui, bahwa sejatinya setiap manusia adalah seorang Filsuf. Setiap manusia pada dasarnya adalah penarik kesimipulan atas peristiwa yang akan,tengah, atau pernah dialaminya.

Menjadi versi terbaik, adalah jawaban dari hasil proses pencarian terhadap formula hidup yang acap kali saya pertanyakan dalam diam jawabannya sederhana. Hal tersebut tentu lahir dari rangkaian yang tidak sederhana, sebab raga butuh terjatuh untuk tahu arti bangkit dan rasa butuh terbentur agar dapat mencari bentuk.

“Lantas, bagaimana upaya agar setiap dari kita bisa sampai pada versi terbaiknya? “. “Khairunnas Anfauhum Linnas” (Sebaik-baik manusia adalah yang mampu bermanfaat bagi manusia lainnya). Ibarat kelapa, manusia terbaik adalah makhluk yang sejatinya dapat mendaya gunakan seluruh sendi kehidupannya. Akarnya, daunnya, dahannya, buahnya, airnya, bahkan getahnya adalah potensi manfaat yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan.

Lantas apa hubungannya dengan manusia? Percayalah, tak harus lebih dulu menjadi kuat untuk dapat mamberi manfaat. Tak harus melumat banyak plakat untuk jadi Tak harus mampu berfikir secepat kilat untuk jadi bermaafaat. Cukup! Cukup Punya NIAT untuk MAU jadi HEBAT.

Lagi-Iagi ibarat kelapa yang notabe adalah tumbuhan, ketika getahnya saja mampu bermanfaat, terlalu tak imbang rasanya jika dibandingkan dengan manusia (makhluk paling mulia) yang terkadang lupa, bahwa gagalmu ibarat getah yang punya titik berkah dan potensi manfaatnya sendiri!

Namun, yang perlu diingat, ketika kau meyakini bahwa menebar manfaat adalah cara untuk sampai pada versi terbaik. Jangan pernah sesekali kau terapkan ilmu lilin, yang menyatakan; “Menerangi yang lain dan membakar diri sendiri” (Sebab, Diri juga punya hak untuk diterangi) Sekecil apapun dampaknya, manfaat tetaplah tabungan hidup berupa modal untuk menjadikan kita tiba pada versi terbaik!

Bandung, Februari 2019
Nurul Khaerunnisa

Facebook Comments

Terpopuler

To Top