Coretan

Semua Manusia Entrepreneur

BAWAKALEM. Kayaknya predikat Entrepreneur sudah melekat dalam diri manusia sejak dalam kandungan. Bagaimana tidak, dalam kandungan manusia sudah belajar mandiri, berjuang berputar-putar dalam rahim Sang Ibu, dan bekerjasama dengan sang Ibu untuk dilahirkan. Karena sejatinya, entrepreneur memiliki makna kemandirian, perjuangan, dan kerjasama. Tiga poin dasar untuk hidup dan menjadi manusia bermanfaat untuk orang lain.

Coba kita pikir dan ingat-ingat kembali, bagaimana peradaban manusia terbentuk secara alamiah dan terus mengalami kemajuan. Artinya, semua yang ada saat ini merupakan hasil buah pikir dan daya kreatifitas yang dibentuk oleh manusia sebelumnya. Dan semua itu merupakan sifat dasar manusia untuk bertahan hidup.

Lalu, kok menjadi terheran-heran, mengapa semangat entrepreneur selalu digaungkan, seolah-olah dan seakan-akan kamus entrepreneur itu baru muncul dan ramai hari-hari ini, dan ramai dibincangkan dikaula muda. Padahal tanpa disadari, sejak dilahirkan manusia adalah makhluk entrepreneur. Yang selalu kreatif dalam menghadapi setiap tantangan zaman.

Terus keheranan selanjutnya, dunia pendidikan dan akademisi seolah-olah terkalahkan dengan gaungnya entrepreneur, sehingga entrepreneur itu dipaksakan masuk ke dalam kurikulum atau SKS tambahan dalam kuliah. Padahal sekali lagi tanpa disadari entrepreneur itu sebuah bentuk alamiah manusia untuk bertahan hidup dengan daya imajinatifnya.

Ooh lupa, kan dengan adanya kurikulum atau SKS tambahan itu membuka lapangan kerja baru, mereka juga sedang ber-Entrepreneur.

Coba perhatikan, sebetulnya Indonesia ini sama sekali ga kekurangan entrepreneur. Bahkan perilaku entrepreneur telah dilakukan sebelum negara ini merdeka. Kenapa hal itu terjadi? Dikarenakan kebutuhan premier manusia yang harus selalu terpenuhi, makanya secara naluriah masyarakat telah melakukan kegiatan entrepreneur untuk mencukupi kebutuhannya.

Maka senyatanya, tidak ada yang berubah dari pola kehidupan manusia dari dulu sampai sekarang. Tapi kenapa, kampanye persoalan mencetak entrepreneur malah melihatkan keterlambatannya dari realita yang sesungguhnya, padahal sebelum adanya suara gaungan mencetak entrepreneur, mereka telah melakukan aksinya menjadi seorang entrepreneur.

Katanya sih menurut data yang disampaikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM kabinet kerja bahwa jumlah pengusaha di Indonesia saat ini baru mencapai 3,10% dari jumlah penduduk Indonesia kurang lebih sebanyak 250 juta jiwa. Apabila kita cermati dan kritisi, 3,10% itu pengusaha yang seperti apa? Dan mengapa seseorang disebut pengusaha lalu masuk kedalam angka 3,10% itu.

Lalu, pedagang pecel lele yang setiap malam selalu ada, bubur ayam yang setiap pagi selalu setia menemani sarapan kita, dan pedagang mie ayam baso yang siap menemani makan sore kita yang jumlahnya sangat banyak apa masuk ke dalam angka 3,10% itu? Belum lagi di tambah pedagang pedagang yang lainnya.

Jadi sebetulnya, jumlah pengusaha itu banyak, kenapa banyak? Karena masyarakat yang tidak memiliki strata pendidikan yang mapan, mereka akan bekerja keras untuk menciptakan lapangan kerja sendiri untuk mencukupi kebutuhannya. Karena itu dasariah manusia untuk bertahan hidup. Terlepas usahanya meningkat atau tidak, yang terpenting mereka telah berani untuk bertarung menjadi entrepreneur.

Yang jadi persoalan sebetulnya, pikiran kita saja yang memberikan definisi bahwa entrepreneur itu harus memiliki segalanya, mobil mewah, rumah mewah, selalu meeting hotel to hotel, yang padahal pikiran itu yang akan mendeskriditkan kita terhadap mereka yang sedang meringankan beban negara.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa pedagang pecel lele, baso, dan yang lainnya yang biasa kita temukan seringkali mengeluhkan usahanya yang statis, jangankan beli rumah, dan mobil, terkadang meraka untuk makan sehari-hari saja merasa susah. Nah disinilah perlu hadirnya inovasi-inovasi yang ditawarkan. Agar usaha yang kita memiliki daya saing, sehingga usaha kita ga gitu gitu ajah.

Kesalahan pedagang-pedagang kecil itu biasanya adalah persoalan inovasi dan menejemen usaha dan keuangan yang jika kita cermati, itu merupakan modal tambahan agar usaha kita meningkat.

Akhirnya kita berkesimpulan, memang semua manusia adalah entrepreneur, jiwa sudah dimiliki, perangkatnya telah tersedia, keberanian telah cukup, namun percuma saja jika tanpa inovasi dan pengelolaan yang baik, semuanya akan menjadi biasa biasa saja.

So, siapapun yang ingin berwirausaha, berwirausahalah, karena itu dasar utama kita untuk bertahan hidup, jika ingin usahanya berkembang, tingkatkan inovasinya, jika ingin semakin berkembang kelola usahanya dengan cara yang baik.

Penulis: Ivan Nurdin

Facebook Comments

Terpopuler

To Top