Coretan

Dunia Mikroba

BAWAKALEM. Mikroba ada dimana saja, ada di handphone kita, ada di tangan kita. Singkatnya, mikroba ada di seluruh tubuh kita.

Itulah kenapa, jutaan tahun yang lalu manusia dan mikroba membuat sebuah kesepakatan, dimana manusia akan menyediakan rumah dan makanan untuk mikroba sedangkan mikroba sebagai gantinya akan bekerja untuk manusia.

Tetapi, semakin jauh kita mempelajari hubungan antara mikroba dan manusia, semakin kita tahu bahwa hubungan antara mikroba dan manusia tidak bisa dipisahkan.

Saat di dalam kandungan ibu, bayi berada pada kondisi steril. Tapi, saat si bayi lahir melalui proses kelahiran secara normal, miliaran mikroba yang terdapat di leher rahim akan menempel dan menjadi bagian dari tubuh si bayi. Kejadian ini sangat penting bagi kesehatan manusia. Itulah kenapa bayi yang lahir secara caesar punya resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit asma, dan gangguan daya tahan tubuh.

Dengan kata lain, tubuh manusia tidak hanya toleran pada kehadiran mikroorganisme, bahkan tubuh manusia menyambutnya dengan senang hati. Selama jutaan tahun, manusia dan mikroba saling membantu dalam proses tumbuh dan berkembang untuk kebaikan bersama.

Sebagai contoh, air susu ibu atau yang biasa kita sebut dengan ASI. ASI mengandung jenis gula yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan dan juga sebagai pendukung pertumbuhan beberapa mikroba dari jenis tertentu. Perlu waktu sekitar 2 tahun sampai mikroba yang baik dan bermanfaat terbentuk didalam tubuh kita.

Supaya tetap hidup, mikroba telah mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan tubuh kita. Komunikasi penting seperti, memberitahu sistem kekebalan tubuh kita supaya tidak membunuh mereka.

Sebagai gantinya, mereka akan menjaga kesehatan usus kita. Dimana mereka menghasilkan zat penghantar pesan, yang dapat membantu sistem kekebalan tubuh, bahkan beberapa jenis mikroba dapat merangsang pembaharuan sel usus menjadi lebih cepat.

Pada dasarnya, bibit mikroba memang berasal dari ibu kita. Tetapi faktanya perkembangan mikroba dan perubahan selanjutnya tergantung apa yang kita makan. Setiap jenis mikroba di usus kita makan makanan yang berbeda-beda. Beberapa suka serat dan sayuran hijau, dan beberapa lebih memilih gula dan tepung.

Usus kita seperti taman, dimana kita terus-menerus memilih tumbuhan apa yang boleh tumbuh dan mekar. Jika kita makan makanan sehat, kita akan memelihara bakteri yang menyukai makanan sehat. Jika kita makan terlalu banyak fastfood, usus kita akan didominasi bakteri penyuka fastfood juga.

Pada intinya, kita harus bekerja keras untuk mempelajari semua ini supaya kita semakin paham proses di balik peran mikroba dan kita, peran dibalik mikroba bagi kita baik yang menguntungkan ataupun merugikan.

Tidak peduli apakah kita suka ataupun tidak akan keberadaan mikroba didalam tubuh kita. Pada dasarnya kita memerlukan mikroba, dan mereka juga memerlukan kita. Kita bukanlah pemilik tubuh ini sepenuhnya. Walaupun begitu, bersyukurlah kita mempunyai “sekutu” yang hebat yang bisa melindungi kita jika kita mampu untuk menjaga perdamaian antara mikroba dan kita.

Hadiyat Maulana Deraja

Facebook Comments

Terpopuler

To Top